PERSPEKTIF DALAM
TEORI KOMUNIKASI
O
l
e
h
Kelompok II :
1.
Massalwa Sitompul 8146121024
2.
Rossy Luckita
Sasmita 8146121035
3.
Yanti Lestari
Simanjuntak 8146121041

Program Studi
Teknologi Pendidikan
Tahun 2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur
kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PERSPEKTIF DALAM TEORI KOMUNIKASI ”.
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori
Komunikasi dalam Pendidikan. Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, namun kami sudah berusaha mengerjakannya dengan baik.
Untuk itu kami menerima dengan senang hati saran, kritik dan masukan untuk
penyempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, November 2014
Penyusun,
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
...................................................................................................... i
Daftar Isi………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah……………………………………………….. 1
B.
Rumusan
Masalah……………………………………………………… 1
C.
Tujuan
Pembahasan …………………………………………………… 1
D. Manfaat Pembahasan
………………………………………………….. 1
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Penelitian
Eksperimental ………………………………….. 3
2. Tujuan Penelitian
Eksperimen…………………………………………. 3
3.
Variabel
Penelitian Eksperimental……………………………………... 4
4.
Karakteristik
Penelitian Eksperimental………………………………… 5
5. Validitas Penelitian
Eksperimental…………………………………….. 6
6. Syarat - Syarat Penelitian
Eksperimental………………………………. 8
7. Proses Penelitian Eksperimental……………………………………….. 8
8. Bentuk - Bentuk Desain Penelitian
Eksperimen……………………….. 9
9. Kelemahan dan Kelebihan
Penelitian Eksperimental………………….. 13
BAB III PENUTUP
A. Simpulan …………………………………………………………….. 14
B. Saran ………………………………………………………………….... 14
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Banyak orang di
berbagai belahan dunia yang berbicara mengenai komunikasi sesungguhnya tidak
menyadari bahwa mereka sedang melakukan proses ‘berkomunikasi’ itu sendiri.
Sesuatu yang sangat sederhana memang, namun sering kali diabaikan oleh kita.
Komunikasi sebagai kegiatan yang dilakukan berulang-ulang apabila kita coba
untuk pahami secara sistematis ternyata akan menjadi sangat rumit. Komunikasi
bukan sekedar proses penyampaian pesan antar satu individu ke individu lain
ataupun dari individu terhadap orang banyak maupun sebaliknya. Menurut
Littlejohn & Foss, komunikasi memiliki peranan yang amat penting karena
berhubungan dengan semua aspek kehidupan manusia
Mengetahui definisi komunikasi, dengan contoh kasusnya yang
sederhana dalam pemahamannya merupakan komunikasi dalam proses pertumbuhannya
merupakan studi retorika dan jurnalistik yang banyak berkaitan dengan
pembentukan pendapat umum (opini public), dimana isu-isu filsafat dalam
ontology, epistemology dan aksiologi dalam pengembangan ilmu komunikasi menjadi
hal yang penting. Komunikasi sebagai ilmu yang dapat
diterapkan dalam hidup bermasyarakat, komunikasi telah lama menarik perhatian
para ilmuwan dari luar bidang komunikasi sendiri, dalam peran penting dan
fundamental serta kompleks dalam kehidupan manusia dan lingkungan/dunianya
.Komunikasi
juga
dipandang sebagai basis informasi, berpusat pada proses
pesan dan terkonsentrasi pada teori komunikasi. Telah dijelaskan bahwa teori komunikasi melihat produksi dan penerimaan
pesan, berfokus pada karakteristik individu dan proses. Teori-teori
dikelompokan dalam tiga jenis. Pertama melibatkan penjelasan sifat, yang fokus
pada karakteristik individu yang relatif statis dan cara karakteristik ini
berhubungan dengan variabel lainnya. Anda akan cenderung untuk berkomunikasi
dengan cara tertentu atau menghasilkan jenis pesan tertentu. Kedua teori
produksi dan penerimaan pesan bergantung pada penjelasan perilaku. Ini
cenderung berfokus pada jenis perilaku, bagaimana perilaku berkembang dan
bagaimana perilaku tertentu terkait dengan perilaku, perasaan, pikiran dan
sifat-sifat lainnya. Pendekatan ketiga melibatkan penjelasan kognitif yang
mencoba untuk menangkap mekanisme dari pikiran. Teori-teori ini berfokus pada
cara informasi diperoleh dan terorganisir, bagaimana memori digunakan,
bagaimana orang memutuskan harus bertindak, bagaimana pesan dirancang untuk
mencapai tujuan, dan sejumlah permasalahan serupa lainnya,
Maka dibutuhkan persfektif sebagai sudut
pandang secara spesifik dan beragam dalam melihat suatu fenomena atau gejala
tertentu yang hendak dikaji, dari berbagai-bagai unsur yang bisa membedakan
sebuah teori satu dengan yang lain. Perspektif memungkinkan terjadinya
perbedaan teori dalam mengkaji dan menafsirkan gejala gejala yang ada.
perspektif lebih luas dalam memandang sesuatu, tidak hanya melihat dari
asal-muasal katanya ( etimologi nya) tetapi mempertimbangkan berbagai hal yang
ada sehingga pemahaman seseorang akan semakin komprehensif mengenai sesuatu..
Perspektif merupakan sebuah sudut pandang dalam mana sesuatu termasuk teori dan
konsep komunikasi bisa dipaparkan secara lebih mendalam. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa Perspektif menjadi
penting dalam melihat dan mengkaji komunikasi secara lebih mendalam karena
tidak mungkin ada sebuah perspektif tunggal dalam melihat komunikasi yang
begitu luas. Oleh karena itu, kami akan membahas mengenai perspektif dalam
teori komunikasi dengan lebih terperci
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian perspektif & teori
komunikasi?
2. Bagaimana
perspektif dalam teori komunikasi ?
3. Apa
konstribusi perspektif dalam teori
komunikasi ?
C. TUJUAN
PEMBAHASAN
1. Untuk
mengetahui pengertian perspektif, teori
komunikasi dan perspektif dalam teori komunikasi
2. Untuk
mengetahui keterkaitan dan hubungan antara perspektif dalam teori komunikasi
3. Untuk
mengetahui sejauhmana
konstribusi perspektif
dalam teori komunikasi
D. MANFAAT
PEMBAHASAN
Dengan penulisan makalah ini
diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah wawasan bagi penulis dan pembaca
khususnya dalam mengetahui bagaimana perspektif dalam teori komunikasi ,
hubungan dan tujuannya komunikasi.
BAB I
PEMBAHASAN
A. 1. Pengertian Perspektif
Perspektif
pada hakikatnya adalah sudut pandang ( Andriani, 2013). Perspektif
merupakan sudut pandang atau cara pandang kita terhadap sesuatu (USU,2013) yaitu Cara memandang yang
kita gunakan dalam mengamati kenyataan untuk menentukan pengetahuan yang kita
peroleh.Hal ini juga diungkapkan
Indiwan ( 2010 ) bahwa Perspektif adalah sudut pandang secara spesifik dan
beragam dalam melihat suatu fenomena atau gejala tertentu yang hendak dikaji dari
berbagai-bagai unsur yang bisa membedakan sebuah teori satu dengan yang lain.
Perspektif memungkinkan terjadinya perbedaan teori dalam mengkaji dan
menafsirkan gejala gejala yang ada. Berkenaan
dengan hal di atas, Andriani, (2013) juga
menambahkan bahwa jika suatu perspektif atau pandangan
adalah ‘realistis’, maka sebagian dari suatu fenomena yang sedang dilihat itu
hilang dan yang lainnya adalah distorsi. Dengan kata lain setiap perspektif,
pada taraf tertentu, kurang lengkap serta didistorsi, meskipun ia merupakan
suatu yang amat ‘nyata’.
Nilai perspektif kita tidak terletak dalam nilai kebenarannya
atau seberapa baik ia cerminkan realitas yang ada. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua perspektif yang dapat
diperoleh adalah benar dan mencerminkan realitas. Sejalan dengan itu,
sebenarnya penulusuran kita adalah mencari perspektif yang dapat memberikan
kepada kita konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapai
tujuan kita. Oleh karenanya, Indiwan
( 2010 ) menggambarkan bahwa berbedanya
antar lingkaran, maka sudah berbeda pula pengertian yang terjadi.
Dari apa yang diungkapkan oleh para ahli di atas, maka dapat dikatakan
bahwa perspektif adalah sudut pandang
secara spesifik dan beragam dalam melihat suatu fenomena atau gejala tertentu. Perspektif melihat
sebuah fenomena yang
berbeda-beda tergantung dari sudut mana kita melihatnya.
Ada 4 (empat ) sifat-sifat
perspektif ( Andriani, 2013)
1. Penentuan Relevansi
Perpektif yang dipakai orang untuk
meninjau fenomena apapun tidak sedikit menentukan aspek apa dari fenomena itu
yang dipandang penting atau relevan, dan sebaliknya, aspek mana yang kiranya
kurang penting dan relevan.
2. Ketertarikan pada Waktu dan Budaya
3. Kemampuan untuk Saling Dipertukarkan
4. Model dan Analogi
A. 2. Komunikasi secara teori
Teori adalah abstraksi
dari realitas. Teori terdiri dari sekumpulan prinsip dan definisi yang secara
konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis.
Sedangkan Llittle John and Foss (2005: 4) mengatakan “ A Theory is a system
of thought, a way of looking”. Jadi dapat disimpulkan teori merupakan
konseptualisasi mengenai aspek dunia empirik tentang suatu fenomena, peristiwa
atau gejala yang telah tersusun secara sistematis dengan penjelasan yang logis.
Karena teori adalah konstruksi ciptaan manusia
secara individual, maka sifatnya relatif, dalam arti tergantung pada cara
pandang si pencipta teori, sifat dan aspek yang
diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat, dan
lingkungan sekitar dimana teori tersebut di buat.
B. Perspektif dalam teori komunikasi
Perspektif berdasarkan pada konteks komunikasi menekankan bahwa manusia
aktif memilih dan mengubah aturan-aturan yang menyangkut kehidupannya. Agar
komunikasi dapat berlangsung dengan baik individu-individu yang berinteraksi
harus menggunakan aturan-aturan dalam menggunakan lambang-lambang. Bukan hanya
aturan mengenai lambang itu sendiri, tetapi juga harus ada aturan atau
kesepakatan dalam hal berbicara, bagaimana bersikap sopan santun atau
sebaliknya, bagaimana harus menyapa, dan sebagainya, agar tidak terjadi konflik
atau kekacauan. Perspektif ini memiliki dua ciri utama:
1.
Aturan pada dasarnya merefleksikan
fungsi-fungsi perilaku dan kognitif yang kompleks dari kehidupan manusia.
2.
Aturan menunjukan sifat-sifat dari
keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab
akibat.
Para ahli penganut aliran evolusi
mengemukakan bahwa dalam mengamati tingkah laku manusia, perspektif ini
menunjuk tujuh unsur di mana masing-masing mempunyai penekanan yang berbeda
dalam pengamatannya. Diantaranya:
1. Memfokuskan perhatiannya pada pengamatan tingkah laku
sebagai aturan.
2. Mengamati tingkah laku yang menjadi kebiasaan.
2. Mengamati tingkah laku yang menjadi kebiasaan.
3. Menitikberatkan perhatiannya pada aturan-aturan yang
menentukan tingkah laku
4. Mengamati aturan-aturan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku.
4. Mengamati aturan-aturan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku.
5. Memfokuskan pengamatannya pada aturan-aturan yang
mengikuti tingkah laku.
6. Mengikuti aturan-aturan yang menerapkan tingkah laku.
6. Mengikuti aturan-aturan yang menerapkan tingkah laku.
7. Memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang
merefleksikan aturan.
Dalam konteks komunikasi pemikiran perspektif juga menekankan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil atau refleksi dari penerapan aturan yang disepakati bersama.
Dalam hal ini ada empat proposisi yang diajukan:
Dalam konteks komunikasi pemikiran perspektif juga menekankan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil atau refleksi dari penerapan aturan yang disepakati bersama.
Dalam hal ini ada empat proposisi yang diajukan:
1. tindakan-tindakan yang bersifat
gabungan, kombinasi dan asosiasi merupakan ciri-ciri perilaku manusia.
2. Tindakan-tindakan di atas disampaikan melalui pertukaran
informasi simbolis.
3. Penyampaian informasi simbolis menuntut adanya interaksi antarsumber, pesan, dan penerima yang sesuai dengan aturan komunikasi yang disepakati.
3. Penyampaian informasi simbolis menuntut adanya interaksi antarsumber, pesan, dan penerima yang sesuai dengan aturan komunikasi yang disepakati.
4. Aturan-aturan komunikasi ini mencakup pola-pola umum dan
khusus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar